Terus-menerus mendengarkan sama dengan melihat secara langsung. Sebagai contoh, kamu adalah keturunan dari ayah dan
ibumu. Meskipun kamu tidak melihat kelahiranmu secara langsung, tetapi kamu mendengar pernyataan ini secara
berulang-ulang dari banyak orang, dan kamu pun menerimanya sebagai sebuah kebenaran.
Maka, ketika ada orang yang berkata kepadamu, “Keduanya bukanlah orang tuamu,” niscaya kamu akan mengabaikannya.
Begitu juga ketika kamu mendengar dari banyak orang bahwa kota Jakarta dan Surabaya itu benar adanya. Seandainya ada
orang yang mengatakan kepadamu bahwa kota Jakarta dan Surabaya itu tidak pernah ada, pasti kamu akan menyangkalnya,
meskipun orang tersebut bersumpah.

Makna Kabar Mutawatir dalam Kehidupan
Jadi, ketika telinga mendengar kabar dengan jalan yang mutawatir, maka ia akan mempunyai kekuatan hukum yang
sama dengan melihatnya secara langsung. Karena secara lahiriah, ucapan yang mutawatir sama sahihnya dengan melihat
secara langsung.
Terkadang ada orang yang ucapannya bernilai mutawatir, sehingga ia tak lagi menjadi satu orang, melainkan ratusan,
ribuan, atau bahkan lebih. Misalkan ucapan raja, pemerintah, ulama, serta pada derajat yang lebih tinggi yaitu para
nabi dan rasul.
Ucapan Pertama Manusia dan Tanggung Jawabnya
Dan setiap apa yang kita ucapkan dan lakukan nantinya akan dimintai pertanggungjawaban. Lalu, ingatkah kita dengan
ucapan yang pertama kali kita sampaikan?
QS. Al-A’raf: 172 — “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari
sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’
Mereka menjawab: ‘Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.’ (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari
kiamat kamu tidak mengatakan: ‘Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang lengah terhadap ini.’”
Apa yang kita ucapkan pertama kali diabadikan Allah dalam Al-Qur’an yang Ia wahyukan kepada suri teladan kita, sang
penyampai peringatan, agar kita tidak lupa siapa diri kita sebenarnya. Pesan dalam ayat tersebut merupakan amanah
yang harus ayah sampaikan kepada anak-anaknya.
Amanah Pertama: Iman dan Tauhid
Layaknya apa yang disampaikan oleh Luqman Al-Hakim kepada anaknya yang Allah abadikan dalam Surah Luqman ayat 13:
QS. Luqman: 13 — “Wahai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya
mempersekutukan Allah adalah benar-benar kezaliman yang besar.”
Serta apa yang disampaikan oleh Nabi Ya’qub ‘alaihis salam sebagaimana yang Allah abadikan dalam Surah Al-Baqarah
ayat 133:
QS. Al-Baqarah: 133 — “Adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan tanda-tanda maut, ketika ia
berkata kepada anak-anaknya: ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab: ‘Kami akan menyembah Tuhanmu
dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, yaitu Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh
kepada-Nya.’”
Jadi, satu dari dua amanah yang harus ayah sampaikan adalah tentang tauhid, yaitu iman kepada Allah
dan tidak mempersekutukan-Nya dengan apa pun.
Menguatkan Iman dari Waktu ke Waktu
QS. Al-Hadid: 16 — “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk hati
mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah diturunkan?”
Dengan kata lain, Allah bukan hanya memerintahkan kita menjaga iman hingga akhir hayat, tetapi juga meningkatkan
kadar iman tersebut dari waktu ke waktu, agar kita tidak termasuk golongan orang-orang yang fasik.
Amanah Kedua: Ibadah sebagai Bukti Keimanan
Lalu, bagaimana cara kita meningkatkan kadar iman tersebut? Jawabannya telah Allah siapkan dalam Surah Adz-Dzariyat
ayat 56:
QS. Adz-Dzariyat: 56 — “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka
beribadah kepada-Ku.”
Yaitu dengan cara beribadah kepada-Nya. Apa pun yang kita lakukan hendaknya diniatkan sebagai
ibadah. Inilah amanah kedua dari dua amanah kehidupan yang harus ayah sampaikan dan ajarkan kepada anak-anaknya.
Ringkasan: Dua Amanah dalam Satu Paket Islam
- Iman: pengakuan terhadap keesaan Allah melalui dua kalimat syahadat.
- Ibadah: shalat, zakat, puasa, dan haji bagi yang mampu.
Dua amanah ini merupakan satu paket yang disebut Islam, satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah.
Sebagaimana wasiat Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dan Nabi Ya’qub ‘alaihis salam kepada anak-anak mereka:
“Sesungguhnya Allah telah memilih agama ini bagimu, maka janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan memeluk agama
Islam.”
Penutup
Sebagai penutup, tulisan ini tidak lain hanyalah pengingat bagi diri saya pribadi khususnya, dan para pembaca pada
umumnya. Seluruh firman Allah dalam Al-Qur’an yang setiap hari kita baca dan dengarkan adalah kebenaran mutlak yang
wajib kita imani sebagai seorang muslim. Semoga kita tidak termasuk golongan orang-orang yang fasik, yang sering Allah
peringatkan dalam Al-Qur’an.
FAQ (Pertanyaan yang Sering Ditanyakan)
Apa yang dimaksud amanah kehidupan yang harus ayah sampaikan?
Amanah kehidupan yang dimaksud adalah pesan pokok yang wajib ditanamkan orang tua kepada anak, yaitu menjaga
iman (tauhid) dan membiasakan ibadah sebagai bukti keimanan.
Mengapa iman dan ibadah harus berjalan bersama?
Iman menjadi dasar keyakinan, sedangkan ibadah menjadi wujud nyata dari keyakinan itu. Keduanya saling menguatkan,
sehingga seorang muslim tidak hanya meyakini kebenaran, tetapi juga menjalankannya dalam kehidupan.
Bagaimana cara sederhana mengajarkan amanah ini kepada anak?
Mulailah dengan teladan: ajak anak mengenal Allah, biasakan doa dan shalat, jelaskan makna syahadat secara bertahap,
serta bangun kebiasaan ibadah harian dengan pendekatan lembut dan konsisten.